SAFARI TARI

Sekitar jam lima sore, kakiku terhenti pada satu desa di sudut Jogja, perangainya sejuk, beberapa campuhan juga diam mensejahterakan pengalaman masing-masing. Aku tidak pernah tahu sore ini aku akan menemukan safari tari pada elemen dan pragmatisme hidup. Namanya Sari, umurnya 22 tahun, lenggak lenggok selendang dan kakinya memukauku, Sari tidak paham dia sedang menghipnotisku dengan sentuhan dan beberapa nilai budaya yang ditawarkan. Sayang, Sari putus sekolah, kaki dan tangannya terhenti ketika seorang perempuan memintanya berhenti dan menenggak air teh manis buatannya. Cita-citanya sederhana, hanya ingin menjadi tokoh Desa di bidang…

Selengkapnya

REGISTRASI WAKTU

  Samping rumah saya adalah sepasang kekasih yang siap memanjakan diri di era milenium ini dengan beberapa kisah klasik mereka. Ukurannya sederhana, siapa yang bisa membuat pasangannya menangis karena masa lalu yang entah indah atau tidak, dia berhasil melakukan registrasi waktu. Mendaur Ulang keberadaan waktu dan meminimalisasikan berbagai kecenderungan. Siapa yang tak punya masa lalu? Setiap orang punya masa lalu, hanya saja masa lalu itu terbebani dengan berat jenis masa depan atau tidak. Jika berat, maka kecenderungan seseorang untuk meninggalkan masa lalu akan semakin besar, namun sebaliknya, jika ringan, maka…

Selengkapnya

TERLALU KALAH DENGAN PERUMPAMAAN

  Dulu aku pernah berteduh di antara dua bukit, seperti apa yang pernah terjadi diantara kita. Beberapa waktu yang lalu, terlebih malam ini aku mulai mengulik sepertiga perasaan yang tidak terlahir sempurna, lebih kepada diada-adakan, dan bukan ada. Detak jantungku perlahan mulai menggeliat, memeriksa segenap haluan pesimis. Sama seperti yang terjadi dalam kepekaan, kebersamaan dan kemurnian. Kalau saja waktu masih bisa digantung diatas harapan, aku akan membelinya seperti seonggok daging. Yang terjadi adalah kenapa waktu mempertemukan kita, sementara waktu tak pernah mempertemukan kita lagi. Apa yang menjadi persembunyian waktu kau…

Selengkapnya

SELIMUT ALTERNATIF

  Di depanku terpampang jembatan kegelapan, udara masih dingin, jiwa-jiwa meringkuk di balik selimut alternatif. Beberapa mimpi masih mengangguntung sisa semalam, tanpa sadar aku sudah memperkosa ide dan pikiran, aku paksa mereka untuk menelan pil pahit kehidupan, angan-angan yang rontok di tengah jalan dan beberapa sudut kegelapan yang dipaksa menjadi terang. Hujan masih berdandan cantik, mereka akan ikut kontes hiburan jalanan. Aku melebarkan genggaman jariku, meniadakan separuh jiwa dan pengalamanku untuk diceritakan pada separuh penduduk dunia. Legalnya sederhana saja, indikasi dalam pantauan hati merebak saat beberapa tangkai bunga meledak dan…

Selengkapnya

PEMBUBARAN LOGIKA

  Supaya tidak banyak yang diam, sebaiknya dunia saya bubarkan saja atas nama undang-undang. Bagi saya undang-undang yang diatas namai hanya seekor udang yang tak ada namanya, bahkan tak pantas diberi nama “udang” sebab batasan dia dikatakan udang atau bukan udang ada dimana? Sebagian orang yang menghabiskan uangnya untuk membeli SPP adalah yang mengetahui undang-undang sebagai bentuk kekotoran peradaban. Sungguh inovasi kebodohan harus terus berjalan dengan rumusan masalah “Bagaimana mewujudkan manusia yang super bodoh” kalau begitu dunia akan segera saya bubarkan. Tuhan tegur! Aku yang menciptakan dunia kenapa kau dengan…

Selengkapnya

PAMAN MERAUKE

  Beberapa gadis menyedekahkan jangat yang subtil-subtil, mereka tidak tahu ada durasi hidup yang dipertaruhkan. Sementara itu, berdiri dengan gagahnya seorang laki-laki bertubuh sedikit tambun. dia seksama mengawasi kiri kanan depan belakang sebuah Kafe. Kejadian ini ada di Gili Trawangan, sesaat setelah aku menghentakkan kaki di sudut Pulau itu. Namanya Merauke, aku memanggilnya Paman Merauke. Dia adalah seruan masa depan yang menjelaskan betapa hancurnya etika manusia. Aku duduk bersamanya setelah makan siang. Dia menyapaku dengan sebutan “Hei…” bukan “Hai…” wajar bagiku, sebab setiap budaya memberikan injeksi masing-masing. Sudah 23 tahun…

Selengkapnya

KOM-PLEKS-ITAS

  Saya baru saja menciptakan peribahasa, “Siapa yang menanam tidak akan menuai dengan baik, kalau apa yang ditanam bukan sesuatu yang pantas ditanamkan.” Anda bingung? Makanya jangan teruskan sekolahmu. Kebingungan tercipta karena ada dua makna saling bersinggungan, makna pertama adalah anda paham setengah dari yang dipahami, dan yang kedua pemahaman anda hanya setengah-setengah tentang seberapa luas kesalahan pemahaman anda. Kom-pleks-itas adalah tautan murni untuk pembatas yang disebut dengan “Luas” seberapa luas luas itu? Apakah bisa dijawab? Jika anda mengatakan “Ya” pada pertanyaan itu, tandanya anda tidak paham bahwa yang saya…

Selengkapnya

BELUM BISA DUDUK

  Banyak orang sudah duduk, tapi belum duduk, bahkan dalam otoritas kedudukannya, dudukan itu belum bisa diartikan sebagai sebuah kedudukan. Apa sebenarnya duduk itu? Dan bagaimana memaafkan orang yang belum bisa duduk saat menduduki kedudukannya? Saat seseorang terbelenggu dengan simposium bahkan gallery mewah, dia sudah lalai dengan kedudukan yang harus didudukkan duduk perkaranya. Duduk dalam bahasa tertentu dipahami dengan “belum paham” sehingga yang belum paham mana bisa duduk. Arti luas kata duduk adalah memaknai apa yang sebenarnya dipahami dengan kemampuannya. Sehingga yang terjadi adalah tidak arbitrer dalam menjalankan kedudukannya. Berangkat…

Selengkapnya

A-VERSI

  Bola mata sudah sayup-sayup menerjemahkan beberapa lagu klasik yang mengalun pelan di garis telingaku. Ada satu gaya bahasa yang justru akan menjerumuskan ke dalam perut bumi yang nikmat tiada tara. Apa itu? Dialah A-Versi, sebuah konsep yang diartikan “menghindar” apa yang harus dihindari? Banyak hal yang disebut dalam kamus tak pernah sama dengan kenyatan. Kamus hanya menggembol kosakata tapi tak pernah relevan dengan apa yang disangkakannya. Pada waktu yang bersamaan, muncullah pertanyaan, kenapa harus menghindar? Apakah ada sisi kesehatan yang menjalar keras di dalamnya? Atau hanya sepenggal perjalanan yang…

Selengkapnya

TERAPI KOMUNIKASI MELALUI GAMELAN BAGI PENDERITA

Buku ini berdasarkan hasil penelitian di lapangan selama enam bulan. Dengan mengambil lokasi di SLB Bina Anggita, salah satu SLB yang menggunakan Gamelan sebagai alat untuk menerapi siswa-siswa berkebutuhan khusus. Bersama rekan saya Desi Lana, kami meneliti kasus ini dengan metode observasi dan runtutan data yang kami peroleh dengan wawancara dan analisis data di lapangan. Melihat secara langsung apa saja yang menjadi aktivitas siswa-siswi SLB Bina Anggita menelurkan satu pemahaman baru bahwa alat musik tradisional seperti Gamelan bisa dijadikan alat untuk menerapi siswa berkebutuhan khusus. Semoga apa yang menjadi hasil…

Selengkapnya