ANGKRING MANNER “Kenapa Indonesia Hurufnya Sembilan?

Pancasila sebagai  sebuah idiologi memang sudah sewajarnya menjadi satu pondasi yang begitu kuat, jangan sampai ada manusia-manusia serakah yang mengaku pancasialis namun tidak bisa reformis.. Maling-maling negara hingga kini tidak pernah tahu bagaimana mulianya Indonesia sebagai sebuah dimensi yang berbeda dari negara-negara lainnya….. Inilah kisah diskusi yang tidak penting bagi orang yang tidak penting…. Mbak…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Tahun Haru”

Besok sudah malam pergantian tahun, apa yang harus dilakukan? Apa yang harus direncanakan untuk satu tahun ke depan, apakah ritual setiap tahun baru akan selalu jadi rujukan? Apakah Indonesia akan semakin maju atau….justru sebaliknya? Kita lihat apa kata pakar-pakar “bodoh” di angkring manner Kang Guru      : Ra kroso yo Kang besok malam sudah detik-detik pergantian…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Empat Jalan Ke Surga”

Apa yang harus dipikirkan oleh layaknya manusia yang benar-benar punya pikiran? Bagaimana sebuah dunia diibaratkan dengan seorang perempuan? Lalu bagaimana cara manusia seutuhnya agar terhindar dari silaunya dunia? Masihkah sifat keduniaan mengabaikan sifat-sifat akherat lainnya? Entah mengapa apa yang tergambar pada dunia mengisyaratkan ribuan mill pikiran manusia yang mereka gantungkan dalam sebuah pertemuan dengan perempuan,…

[Continue reading]

DIALOG DENGAN TUHAN “Tuhan, Bolehkan Saya Berzinah?”

Manusia itu banyak yang berperan ganda, tidak semestinya seperti apa yang dia perankan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Lalu di mana logika sesatnya ketika manusia terus merasa benar dalam benak dirinya sendiri. Manusia selalu berpikiran seperti apa yang mereka kehendaki  saja, tanpa berpikir apa yang dikehendaki Tuhan… Soal dosa, pahala serta pemikiran tentang bentuk abstrak adalah…

[Continue reading]

TERBENDUNG “Dalam Itu Adalah Rindu, Dan Celah Adalah Pikiran” (Karya Tya Sidiq, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Sekali Lagi, Bolehkah Mengadu Sambari Dalam Dekap Mu? Aku Rindu. Rindu Kecupan Pada Lengan Yang Penuh Hasrat Arti. Rasanya Ingin, Ingin Menembus Baja Ini Tapi Apa Hal Ia Demikian Lebih Tangguh. Terpaksa Memendam Lagi, Lagi, Lagi Dan Lagi. Biarkan Pergi Bersama Racunnya, Ku Ulangi Hingga Ku Lelah Dan Ku Ulangi Lagi. Sakit Memang Menghancurkan Baja…

[Continue reading]

TAK BERUJUNG “Ketika Manusia Terjebak Dalam Ujung Yang Tak Berujung” (Karya Tya Sidiq, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Hidup yang tak menentu menghampiri diri yang kecil, mungil, yang tak tahu apa arti kehidupan. Terombang ambing melewati kerasnya hidup, tak ada yang bisa dijadikan sandaran baginya. Dari kejauhan gadis itu berjalan sempoyongan. Letih, haus, lapar seakan Ia ingin menjerit bak sangkakala. Sia-sia lah Ia tak ada yang mendengar dan peduli. Rintihan demi rintihan, tetesan…

[Continue reading]

SAAT SIANG TAK BISA MENJELASKAN MALAM (Karya Nia Mardiana)

Mecha menatap meja kosong di sudut kedai teh nya. Sudah satu bulan dia tak lagi melihat sosok yang kerap duduk di sana sedang asyik berkutat dengan laptop dan bukunya selama berjam jam.  Tak ada lagi pria yang kerap ia ganggu sembari mengantar cangkir teh ke sekian di malam hari.  Tak ada lagi lelaki cerewet yang…

[Continue reading]

“HILANG” “Mencari Tempat Dalam Batas Pikiran Manusia Yang Terbatas” (Karya Tya Sidiq, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Hadir Bagai Angin, Tak Diduga, Begitu Kilat Namun Aku Rasakan. Hadir Dalam Kehidupan Ku, Kamu Menyatu Bagai Benalu. Saling Membutuhkan Dan Melengkapi. Layaknya Debu, Begitu Di Hempas Hilang Dan Berbekas Namun Pasti Berteduh Dimana Angin Membawanya. Begitulah Cara Mereka Hadir Dengan Kehendak Allah Ta’alah….. Segudang Hal Yang Di Tinggalkan. Begitu Selesai, Mereka Meninggalkan Tanpa Peduli…

[Continue reading]

DILARANG CANTIK DI KAMPUS “Hei…Perpus Sebelah Sana”

Masih ingat dengan Elsa? Ujung lorong kampus sore ini sedikit gelap menyamar senja yang enggan menampakkan dirinya di antara mereka. Hujan masih setia melukiskan cerita semantara yang akan segera beranjak meninggalkan sekelompok manusia-manusia muda. Derap langkah kaki Elsa mencoba menerobos sela-sela hujan yang tak tanggung-tanggung membantah permohonan manusia untuk terus cerah, ia menaiki tangga lantai…

[Continue reading]