ANGKRING MANNER “Aku Ingin Menjadi Hewan!”

Kadang pikiran manusia itu tak pernah bener, dianggapp sebagai bentuk feodal, perlawanan dan kudeta tingkat tinggi untuk kebutuhan spiritualitasnya. Ini tidak apa-apa, ini hanya belum tepat saatnya untuk membicarakan kebenaran sejati dan tugas tanggungjawab sebagai mahkluk Tuhan yang beranekaragam dan kejenakaannya. Kang Meleh     : Tepuk tangan ah! Kang Sunat     : Sehat Kang? Kang Meleh     :…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Hukum Tuhan dan Hukum Manusia”

Kesalahan demi kesalahan, kefasihan demi kefasihan, keluguan demi keluguan dan kemunafikan demi kemunafikan. Semua menjadi satu adonan khusus kue lebaran. Hukum profetik mampu diterjemahkan sebagai sebuah logika khitan yang sengaja di sunat untuk kepentingan individu. Lalu, apa yang harus dan akan terjadi setelahnya? Kang Meleh     : Miris..sangat miris mendengarnya! Kang Guru      : Ngopo Kang? Kang…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Kesalahan Terbesar Guru”

Pertanyaan awal bukan soal siapa itu guru? Melainkan apa itu Guru? Kesalahannya di mana? Guru itu mulia, mendidik anak-anak, mengajari yang tidak bisa menjadi bisa. Teologi konseptual ini lahir saat aku merasa telah “mencurangi” diri sendiri dengan mengatakan bahwa guru itu mulia. Kang Meleh     : Ati-ati nek ngomong Kang, Sunat karo Kang Guru itu juga…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Sekar Jempina”

Sukma itu raga, berdiam diri pada tatanan filosofis batin, berbicara dengan mendengarkan dan berbuat dengan berdiam diri. Keragaman itu akan tersusun dengan fasih ketika manusia berada pada level Sekar Jempina. Kang Meleh     : Apa itu Kang Sekar Jempina? Kang Guru      : Keadaan dzikir yang begitu hening dan sunyi, diam dan jernih tanpa ada usikan sesuatu…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Men-Dubes-Kan Tuhan Di Negeri Basa-Basi”

Ini bukan seminar, ini bukan ujian terbuka, ini bukan kolokium, apalagi simposium. Ini adalah fase berpindahnya lidah manusia untuk  menyambung erat kegumaman manusia lain. Lalu Tuhan menegur  manusia dengan segala teguran yang bersifat analitik dan empirik. Kang Sunat     : Pengalaman bertuhan manusia sangat fantastis! Kang Ijo          : Kenapa? Kang Salim      : Fantastis itu bermacam-macam maknanya…

[Continue reading]

DIALOG DENGAN TUHAN “Ensiklopedia Neraka”

Tuhan itu di mana alamat lengkapnya? Tuhan di mana “tongkrongannya”, Tuhan di mana kalau mau beli baju?. Pertanyaan itu menganggu pikiranku untuk terus menerobos dinding besar yang dinamakan dengan keragu-ragu-an. Manusia           : Tuhan, bagaimana neraka itu? Tuhan              : Aku tidak tahu! Manusia           : Tidak tahu? Bukankah Kau maha tahu? Tuhan              : Iya!…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Antara “Tuhan” Dengan “tuhan””

Keduanya mempunyai “potensi” dan “ideologi pasar” tersendiri. Yang satu bergaung dan yang satu menggaungkan ketidaktenarannya, makanya ia menggaungkan karena ia tahu bahwa ia tidak terdengar keberadaannya. Kang Sunat     : Siapa mereka Kang? Kang Ijo          : Itulah pertarungan sengit keduanya! Kang Sunat     : Apa perbedaannya? Kang Ijo          : Yang satu menggunakan t besar dan yang satu…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Selatan Itu Persepsi Utara”

Bijak itu apa? Kalau sederhana itu bagaimana? Kemudian adil itu ada di mana? Nyaman? Seneng? Bahagia? Itu semua ada di mana dan siapa yang berhak untuk tidak dan memilikinya. Apa boleh orang seperti saya menyentuh itu semua? Kang Sunat     : Setahu saya lho Kang, bahagia itu ada dalam diri kita masing-masing! Kang Guru      : Yang…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Seharusnya Manusia”

Obrolan malam ini tiba-tiba menjadi seru dan menegangkan saat salah seorang batalion manner memberikan pertanyaan; kenapa manusia sempurna? Lalu bagaimana proses menemukan jawabannya? Kang Sunat     : Apa hayo? Kang Ijo          : Emange opo Nat, kan kwe urung tanya opo-opo! Kang Sunat     : Kenapa manusia itu sempurna, dan di mana letak kesempurnaan manusia? Kang Meleh     :…

[Continue reading]

ANGKRING MANNER “Jangan Terlalu Membenci Yahudi”

Aktivitas sosial, pemikiran dan rasa dendam itu dikendalikan, bukan dimusnakahkan, Tuhan tidak menyuruh kita untuk memusnahkannya, Dia menyuruh kita untuk mengendalikannya. Termasuk rasa benci, dendam terhadap siapa saja teerutama Yahudi, pelajari dulu ilmunya baru komentar! Kang Meleh     : Sek Kang, ilmunya dimana ya? Kok saya belum nemu? Kang Guru      : Masyarakat itu sudah kadung membenci…

[Continue reading]