EPI-SODE-DUA

###

Dalam setiap detik kehidupan akan ada berbagaimacam kesenjangan, kesombongan dan kemunafikan. Sederhananya saja bahwa untuk bisa hidup maka dibutuhkan fase plus dan minus.

Kebanyakan manusia tidak bisa menerima bagaimana fase minus itu terjadi. Manusia hanya mencari jawaban, tidak mencari pertanyaan apa yang pantas untuk diri sendiri secara subjektif dan diri mereka (dunia) secara objektif.

Lingkaran drainase dunia merupakan episode kedua setelah episode pertama berjalan tanpa iklan, dia seperti inkubasi sementara, hanya saja apa yang diberikannya merupakan bentuk ketidakseimbangan pikiran manusia dengan kehendak Tuhan.

Kesempatan kedua manusia adalah masa dimana antara manusia dan hewan tidak ada bedanya. Hewan bisa menampilkan sisi kehewanannya dengan sempurna, dalam artian dia melakukan dosa secara terang-terangan tidak ada masalah dan tidak ada hukum yang mengaturnya.

Manusia berdosa secara profesional dan direncanakan, padahal kenaikan derajat manusia mengalami penurunan yang kadang bisa dibilang “Iya” dan “Mungkin Bisa”, hanya saja takarannya berbeda dengan simulasi yang terpenjarakan oleh tangan-tangan penuh harta benda dosa.

Tuhan memberikan ketegasan kepada manusia sebuah dunia yang luas! Itulah ketegasan Tuhan dalam wujud yang indah, menyenangkan dan bahkan manusia sengaja mencari celah untuk meninggalkan wujud itu untuk mencari dimensi lain yang hanya ada dalam sudut-sudut ketumpulan otak manusia. Jika menghakimi diri sendiri cukup dengan memaki-maki, maka tidak akan ada dosa lagi, tetapi Tuhan (lewat perantaranya, Iblis) sudah memberikan MOU dengan manusia. Lalu, kapan manusia menandatanganinya? Saat manusia mengatakan “Tidak” di ujung lidah dan “Ya” di dalam hati paling dalam.

Beku dalam setiap keheningan memberikan satu pemahaman kontrol sosial bahwa dosa itu dimainkan seprofesional dosa. Ditiup, dibelai, diminta, dipuja dan diindahkan hanya karena masalah sepele. Semuanya membutuhkan analogi untuk menganalisis bagaimana sebuah dosa bisa mengalir, tidak ada hal lain kecuali hanya mengucapkan “Maaf” sampai raga lelah dan tertidur dalam tumpukan dosa dan mimpi.

###

~Dwipa~

Artikel terkait

Leave a Comment