PROFESOR AHLI KUBUR

Kita tidak bicara usia yang sudah uzur, tidak juga bicara pengetahuan yang sudah lentur, bahkan tidak juga membicarakan kalangan yang berpenampilan kendur. Ini soal tekad, bulat, konsentrat, bahkan moderat yang erat. Bahwa memang ilmu diukur dari kemampuan menganalisis itu benar, tetapi tidak semua ilmu diukur dari analisis, ia bisa diukur dari sejauh mana ia tak mampu menganalisis, lho kok? Kalau seseorang sanggup menganalisis, maka ia mempunyai ilmu, tapi jika seseorang tidak mampu menganalisis maka ia bukan berarti tak punya ilmu, bisa saja ilmu dia memang sengaja direndahkan dengan tidak menganalisis…

Selengkapnya

WISMA SEROJA “Selera Yang Tak Berselera”

Diungkapkan susah, tidak diungkapkan akan lebih susah lagi, sebab ketika sudah dendam tidak ada kata damai. Semua akan diliputi temaran hati yang selalu membara untuk terus mendendam. Air : Kenapa? Teh : Itu soal selera saja! Cangkir : Ada apa dengan selera? Gula : Tidak masalah orang tidak menyukai kita, memang tidak semua orang mempunyai selera yang tinggi soal hidup! #dwipa#  

Selengkapnya

WISMA SEROJA “Melarang Yang Dilarang”

Sederhana saja, soal pemikiran jalan seseorang dalam menempuh berbagai perih penderitaan hidup. Bahkan ada yang rela buta karena takut melihat dunia. Air : Apa persoalannya jika dia takut melihat dunia? Cangkir : Karena mereka tidak mau melihat kesengsaraan, sebab bagi mereka, dunia adalah ladang kesengsaraan yang abadi. Teh : Setuju! Gula : Tapi benar juga, sesungguhnya orang yang melarangmu adalah orang yang sayang sama kamu. #dwipa#

Selengkapnya

WISMA SEROJA “Dibatas Lelah”

Apakah ada yang merasa sia-sia dalam menjalani hidup? Kalau ada apakah sia-sia itu bentuk kesia-siaan manusia? Atau justru wujud dari kesenangan yang tak berdimensi? Bagaimana? Cangkir : Sia-sia adalah alur yang mundur! Air : Alur bagaimana? Teh : Jalur atau alur? Gula : Dimensi kah? Cangkir : Manusia itu waktunya terbatas! Jadi jangan menyia-nyiakan hidupmu dengan menjalani kehidupan orang lain. Karena manusia saat ini diambang batas lelah yang terlalu curam. #dwipa#

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Ingatan!”

Kekurangan ilmu itu adalah hal yang mengerikan, dia akan kaku, meriang dan muntah karena mual kebanyakan berdusta. Kang Salim : Apa yang bisa dipelajari dari ingatan? Kang Meleh : Apa saja bisa kok asal mudah diingat! Kang Salim : Apa saja? Kang Meleh : Iya, apa saja. Tidak perlu yang besar agar terlihat jelas, cukup yang kecil asal teringat jelas! #dwipa#

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Tata Agama”

Sudah bosan saya menulis soal agama, sudah kaku jari-jari saya menulis soal agama, sudah biasa saya merangkai kata soal agama. Tetapi semakin lama manusia semakin konyol untuk urusan yang satu ini. Kang Ijo : Konyol bagaimana Kang? Kang Meleh : Ya konyol, ngawur kalau sudah bicara agama, seolah agama mereka yang paling benar. Agama lain, salah! Kang Guru : Tinggalkan saja kalau ada orang yang menjelek-jelekkan agama lain. Kang Salim : Saya setuju Kang, bagi saya agama diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata…

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Teman Hidup atau Taman Hidup?”

Memilih teman hidup tidak sama dengan memperkirakan akan seperti apa cuaca hari ini? Tidak juga sama dengan memilih BH atau celana dalam. Memilih teman hidup itu berdasarkan unsur-unsur yang harus diketahui, apakah dia sebuah teman hidup ataukah taman hidup? Kang Meleh : Bedanya apa tu Kang? Kang Sunat : Paling mentok bedanya adalah tida sama! Kang Ijo : Wah Sunat ki pikirane elek terus je. Kang Salim : Coba saya tebak ya Kang. Bedanya adalah jika teman hidup adalah teman yang hidup dan menghidupi, kalau taman hidup bagian dari teman…

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Ada Yang harus Ditinggalkan”

Tidak sama, tidak bisa, tidak akan, tidak mampu. Apakah semuanya sama? Atau hanya kamuflase saja? Atau justru itu bentuk ketidakmampuan seseorang? Kang Salim : Soal meninggalkan ya Kang? Kang Sunat : Memangnya ada apa dengan yang ditinggalkan? Kang Ijo : Maksudnya ini strategi? Kang Meleh : Heem, ini soal hidup yang meninggalkan hidup. Bagaimana caranya? Kang Guru : Beberapa hal memang harus ditinggalkan, sama seperti ranting yang menggugurkan daun kering bukan karena kebencian, tetapi karena waktu yang tepat. #dwipa#

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Soal Sudut Pandang!”

Mencari keberadaan siapa, kemana dan untuk apa memang pekerjaan yang menjemukan, membosankan, dan memberatkan kepala. Tetapi ada satu sisi tersendiri untuk memberikan dimensi kepercayaan kepada siapa saja yang sanggup untuk menemukan mereka, dia, kamu atau kita. Kang Salim : Susah Kang, karena terlalu banyak yang sudah menyakiti kita! Kang Sunat : Curhat ki? Kang Ijo : Bukan cuma curhat Nat! Tapi kita lebih mendalami karakter seseorang kalau kita tahu siapa yang menyakiti kita. Kang Sunat : Untuk apa? Kang Ijo : Ya untuk menyadarkan bahwa kita lemah! Kang Meleh :…

Selengkapnya

REKONTRUKSI KERA

Manusia “dipaksakan” untuk bertransformasi menjadi kera yang sejatinya manusia itu belum mampu menangkap gejala instingtif kera. Rata-rata manusia takut menjadi gila dengan dasar bahwa menjadi menusia lebih “mulia” secara bangunan logika perilaku. Ketetapan ini berbanding terbalik dengan takaran sifat kera yang cenderung mempunyai sifat “urunan” atau saling berbagi dan membantu. Gejala ini ditangkap dengan tidak jeli oleh peradaban manusia, dengan dalih bahwa manusia prematur sudah harus lahir. Himbauan ini merujuk bahwa manusia saat ini cenderung tergesa-gesa dalam bertindak, tak memikirkan dampak sosial dan psikologisnya. Transformasi ke arah manusia milenium ini…

Selengkapnya