REKONTRUKSI KERA

Manusia “dipaksakan” untuk bertransformasi menjadi kera yang sejatinya manusia itu belum mampu menangkap gejala instingtif kera. Rata-rata manusia takut menjadi gila dengan dasar bahwa menjadi menusia lebih “mulia” secara bangunan logika perilaku. Ketetapan ini berbanding terbalik dengan takaran sifat kera yang cenderung mempunyai sifat “urunan” atau saling berbagi dan membantu.

Gejala ini ditangkap dengan tidak jeli oleh peradaban manusia, dengan dalih bahwa manusia prematur sudah harus lahir. Himbauan ini merujuk bahwa manusia saat ini cenderung tergesa-gesa dalam bertindak, tak memikirkan dampak sosial dan psikologisnya.

Transformasi ke arah manusia milenium ini berdampak pada sikap dan tindakan psikologis sosial manusia didalam menjalani kehidupan. Sifat “rakus” kera diadaptasi manusia modern, sifat “cuek” kera diibaratkan seperti kelakuan manusia di struktur masyarakat luas. Jika sudah seperti ini sulit membedakan mana manusia dan mana hewan, sebab keduanya hampir tak bisa dijelaskan secara empiris.

Kemampuan manusia untuk terus berharap pada mimpi religius tak bisa dikatakan berhasil sepenuhnya, sebab di dalamnya ada perubahan biologis yang terkesan “dipersilahkan” oleh zaman dan peradaban pada umumnya. Dimensi yang dibangun mengarah pada keserakahan, kedzaliman dan keguncangan pikiran, tidak bisa dipungkiri bahwa memang dalam khasanah duniawi saat ini, kera menjadi entitas “penting” untuk menjadi rujukan faktual manusia.

Bagaimana cara ukurnya dan apa alatnya? Kata “bagaimana” lebih kepada proses apa yang ada di balik layar, dan alat apa, merujuk pada siapa pemegang strategi yang dipakai untuk mewujudkan dampak merusak atau dirusak oleh pikiran manusia sendiri.

Setelah saya olah dan pikirkan serta melihat gejala sosial yang terjadi dimasyarakat, media massa dan ilmu pengetahuan, tidak bisa sekaligus kita rumuskan bahwa kera adalah manusia dan manusia adalah kera, itu dua hal yang berbeda, tetapi kalau kita lihat dari perilaku manusianya, ada kemungkinan sel-sel kera sudah bertransformasi kedalam wujud sel darah merah manusia.

Egosentrisme manusia berada pada sisi kiri kera, sedangkan logika manusianya berada tidak pada titik kulminasi kera. Itulah sebabnya sifat kera menempel deras pada manusia, yang paling disesali adalah ketidaksadaran manusia jika dia adalah seorang kera. Bisa kera apa saja, kera-bat, kera-jingan, kera-kera-an, kera-njang atau kera-mas, itu kembali kepada proses tawar menawar dialektikal manusia dengan zaman.

Kesimpangsiuran informasi dan ketidakmendalaman ilmu manusia kera menjadi pembahasan wahid dalam teologi kera. Tidak usah dipikirkan, apakah kita manusia kera, atau kera yang berwujud manusia, yang jelas kera dan manusia adalah perpecahan subur dari dua gen yang dulunya dikatakan satu.

~Dwipa~

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *