ANGKRING MANNER “Jalan Pulang”

Orang berpikir tentang bagaimana caranya hidup enak, berlimpah harta dan bergelimang kemewahan. Tapi, manusia lupa “jalan pulang”yang sesungguhnya. Kang Salim : Kemana jalan pulang sesungguhnya? Kang Guru : Kemana saja asal manusia itu paham hakekat kehidupan! Kang Sunat : Hakekat kehidupan? Yang bagaimana Kang Maksudnya? Kang Guru : Kehidupan yang baik adalah sebuah proses, bukan suatu keadaan yang ada dengan sendirinya. Sebab kehidupan itu adalah arah, bukan tujuan! #dwipa@dan#

Selengkapnya

SAPI MENGEONG, KERBAU MENGEMBIK!

Mungkin ini sudah menjadi puncak kekurangajaranku sebagai makhluk tak tahu diri dan  berdaya dalam konsep berpikir, tapi aku perlu berpendapat, lebih tepatnya menyampaikan kegelisahan tentang fenomena alam yang hanya terjadi di Indonesia, khususnya anak-anak muda yang katanya intelek. Bagiku ini sama saja dengan membeli sayur pada tukang bensin, atau menyuruh sapi mengeong dan kerbau mengembik atau bahkan kecoak menggonggong. Kedalaman semesta raya ini pun mungkin saja tidak bisa menterjemahkan apa yang sedang terjadi di tatanan psikologis mereka. Terjadi sebuah fenomena alam yang hanya ada di jiwa-jiwa “kaya” anak bangsa, mereka lebih…

Selengkapnya

WISMA SEROJA “Apakah Terbaik atau Terbalik Hidupmu?”

Sesuatu yang kadang bisa menghancurkan kehidupan adalah berpikir menjadi yang terbaik namun hasilnya terbalik. Seperti sebuah kapal bermuatan manusia, mereka akan tergoncang dan tenggelam karena tak kuat menahan pikiran manusia yang hanya dipenuhi sifat“Menjadi yang terbaik” Cangkir : Apa saja yang disebut dengan baik? Air : Aku sendiri tidak bisa membandingkan diriku dengan diriku yang sebelumnya. Teh : Lalu? Gula : Apakah itu adalah sebuah kronologis kehidupan? Teh : Maksudnya? Gula : Aku belajar bahwa tujuan utamaku adalah berbuat baik dan bukan menjadi yang terbaik. Sebab perbandingan terbaik sekarang dengan…

Selengkapnya

WISMA SEROJA “Debu dan Perjalanan”

Siapa? Kemana? Kepada siapa? Untuk apa? Bagaimana? Hmmm apalagi? Kenapa? Apakah? Lalu? Dimana? Seperti apa? Ah teori! Air : Pertanyaan itu untuk menemukan jawaban atau untuk membuka sebuah rahasia? Cangkir : Apa bedanya dengan membaca berulang atau menghafal? Teh : Kenapa? Gula : Karena seseorang sering secara tidak sadar melukai orang yang tujuan utamanya adalah membuatmu bahagia. Luka dan bahagia seperti debu dalam perjalanan, menempel dan tidak pernah bisa hilang. #dwipa@dan#

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Benci Itu Banci”

Kadang merasa seperti terpuruk dalam menghadapi hidup, kadang juga seperti terbang melayang ketika merasakan kebahagiaan. Lalu apa makna itu semua? Kang Salim : Pemahaman lagi? Kang Guru : Tidak juga! Kang Salim : Lalu, apa Kang? Kenapa benci itu disebut dengan banci? Kang Guru : Sebab jika seseorang membencimu, mentertawakanmu, bahkan menghinamu, sebenarnya kamu memiliki sesuatu yang mereka tak punya. Jadi itulah kenapa yang membenci adalah yang membanci dirinya sendiri. #dwipa@dan#  

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Senyummu Berkelas!”

Ada yang di sudut A dan ada yang disudut B, ada yang mengatakan itu berbobot dan ada yang mengatakan itu biasa saja. Lalu ukuran seseorang mengatakan berkelas dan tidak itu apa? Kang Salim : Apakah berkelas itu selalu menjadi hal penting? Semisal tujuan seseorang? Kang Meleh : Agaknya pemikiran seperti itu perlu untuk dikaji ulang! Kang Sunat : Kenapa? Kang Meleh : Sebab yang dimaksud berkelas adalah saat engkau sudah berada dipuncak amarah namun engkau memilih tersenyum dan mengerti. Itulah manusia berkelas! #dwipa@dan#  

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Kesalahan dan Kekalahan”

Warna-warni hidup, selang seling masalah, naik turun iman, besar kecilnya pengharapan, hitam putihnya perjalanan, tinggi rendahnya ego manusia adalah perhiasan hidup yang kita harus paham dimana dan kapan memakainya. Kang Guru : Soalnya hanya bagaimana kita menemukan pemahaman itu. Soal lain, itu menjadi sudut pembicaraan lain juga. Kang Salim : Tapi Kang, kadang pemahaman yang benar dan baik itu yang susah dipahami oleh orang lain. Kang Guru : Hanya soal mau atau tidak untuk berpikir mencari jalan keluarnya. Selebihnya hal yang mudah saja! Kang Sunat : Sepenting apa membedakan keduanya…

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Kualitas dan Kuantitas”

Sebuah hal yang tabu kalau membicarakan dua hal itu, kuantitas dan kualitas, sebab semuanya berkaitan dengan entitas seseorang dalam mengerjakan sesuatu, berpikir tentang semua kemungkinan dan berharap kepada yang bukan menjadi target utamanya. Kang Meleh : Apakah dua hal diatas sebagai tolok ukur seseorang? Kang Guru : Dalam hal apa dulu? Kang Meleh : Segala hal Kang, iya kah? Kang Guru : Jadi gini Kang, ada yang disebut jumlah tapi tidak berjumlah, dan ada yang disebut jumlah tetapi ia berjumlah. Kang Meleh : Nah yang disebut keduanya itu bagaimana contohnya?…

Selengkapnya

ANGKRING MANNER “Zebra Cost”

Bahaya dari setiap perilaku adalah selalu menerjemahkan setiap kejadian dengan terburu-buru, dengan penuh nafsu dan dengan begitu banyak imbalan. Kang Ijo : Iya, itu sih benar Kang, memang itu bahaya’nya dari setiap kehidupan! Kang Sunat : Imbalan itu apakah selalu berkaitan dengan uang? Kang Salim : Tidak harus! Kang Sunat : Lalu? Kang Salim : Dalam setiap pekerjaan kalau seseorang sedikit saja berharap apa pun dari orang itu, namanya imbalan. Kang Sunat : Apakah tidak boleh? Kang Salim : Boleh saja cuma kalau berlebih maka akan menimbulkan sifat tidak baik.berarti…

Selengkapnya

MUSIM PORNO TELAH TIBA

Dehalusinasi, regenerasi, alasan apapun itu tak dapat diterima akal pikiran jika “maha guru” masih bersenandung dengan indahnya diatas pikiran-pikiran manusia pada umumnya. Pakaian demi pakaian dilepaskan, ini tulisan dari mulai politik hingga celana dalam akan saya bahas!. Dengan apa manusia itu berpikir? Lihatlah! Musim porno telah tiba, perempuan-perempuan mengaku “sholehah” dengan pakaian serba “resmi” menyandarkan pada ayat-ayat kemunafikan, sabda-sabda yang tak relevan. Laki-laki mengaku “shalih” padahal ia memiliki berjuta “kreativitas” namun sayang  jiwa mereka yang suci dirutuhkan dengan ego kapitalisme, unsur liberalisme dan sungsum keangkuhan. Hingga akhirnya mereka sujud kepada materialisme…

Selengkapnya