SUATU MALAM DI SELATAN JOGJA

Beberapa hari lalu, rombongan Universitas SEROJA mengunjungi Selatan Yogyakarta sekedar bersilaturahmi dengan para petani dan buruh-buruh desa. Dalam perjalanan kami, tersimpan sejuta pertanyaan kenapa harus ke tempat ini, ada apa dengan tempat ini. Sore sekitar jam empat, kami sampai di sebuah persawahan, suasana sejuk penuh dengan hamparan tanah dan udara yang menggetarkan hati. Kami bertemu dengan beberapa petani, mereka sepertinya sudah selesai “nyawah”

Menawarkan segelas air putih dan roti combro khas desa. Kami duduk berjajar di sudut campuhan bercerita tentang aktivitas sehari-hari. Ditanya darimana mau kemana, kami jawab dari rumah mau ke rumah. Mereka bingung, dari rumah mau ke rumah? Sudahlah kataku, sekarang kami bisa bantu apa? mereka berjalan ke sebuah kebun bambu memotong beberapa ruas dan memberikannya kepada kami. Ada apa? tanya salah seorang dari kami. Pelajarilah bambu ini, maka engkau akan tahu kenapa kami selalu bersyukur menjadi seperti ini.

Kami mendiskusikannya, hingga malam berkumandang, salah seorang petani datang dengan kaos bertuliskan salah satu partai. Sebut saja namanya Pak Kirdi, salah seorang petani senior berusia hampir 59 tahun.

Mas…bambu ini ada beberapa ruas, dan tiap ruas bunyinya berbeda. Itulah kehidupan, itulah hidup, itulah jalan yang harus dilalui manusia. Kami bertanya, jalan yang bagaimana dan apa bedanya dengan ruas-ruas lainnya? Pak Kirdi menjelaskan, setiap ruas ketika dipukul berbunyi lain. Manusia itu tergantung berada di ruas mana, apakah ruas sosial, agama, atau dimana saja harus mempunyai bunyi atau sikap yang berbeda. Maksudnya menyesuaikan dengan tempat dan kondisi.

Kami melewatkan malam di Selatan Jogja dengan berdiskusi soal hidup, menghargai, kerja keras tanpa pamrih dan bermasa depan ala Pak Tani. Malam itu kami duduk bersama, saling diam memikirkan betapa bijaknya bambu itu, seharusnya mereka juga seperti itu…

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *