WAKIL CAKIL

Mau wakil Presiden, wakil Camat, wakil Menteri atau siapa saja yang berpredikat wakil akan menjadi rendah ketika ketemu dengan yang diwakilkan. Saya melihat atraksi jungkir balik dari semua pemaknaan diatas. Sesekali mungkin perlu kita ziarahi makam jiwanya, taburkan benih kematiannya, dan langkahi kalang tanahnya. Untuk apa? memberikan satu “penghormatan” kepada mereka yang tidak punya catatan sejarah kelam, tidak pernah panas-panasan, tidak pernah beranalogi untuk hanya mengikuti kemana Semar dan Gareng pergi.

Siapa yang merasa demikian, maka tingkatan sosialnya tinggi, peran di dalam lembaga yang dia tumpangi akan bergeser menjadi tempayan pasar tradisional. Dalam kurun waktu tertentu (bisa dua atau tiga tahun) di masa jabatannya, akan terjadi big bang lokal dalam khazanah kelokalannya. Merasa bahwa hidup hanya menulis sejarah yang akan dinikmati penerusnya. Soal itu baik atau buruk tergantung individu lainnya. Selama masih menjadi wakil siapa pun juga, ingat ada yang diwakili. Lihatlah dengan hati dan dengarkan dengan jiwamu, seperti apa peran yang engkau mainkan.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *