KESEMPATAN BERJENJANG

  Sekarang kita bicara soal cinta! Padahal untuk meyakinkan diri sendiri aku harus berperang dengan nafsu dan kesakitanku. Kalau aku belajar pengandaian, pasti akan memelukmu, tapi kalau aku belajar kenyataan, belum tentu itu terjadi. Pada sebuah sore, senja menggulung beberapa harapan, aku melihat sisi-sisi yang tak pernah kau singgahi. Hadirmu tidak pernah memecah kehampaan, tapi…

[Continue reading]

STRUKTUR RASA MALAS

  Kadang menghadirkan destinasi malas dalam ruang rehat kita perlu dilakukan, pasalnya ada masa-masa yang menitikberatkan pada struktur kemalasan. Bahasanya, kalau ingin “menang” melawan bangsa Indonesia, maka bermalas-malaslah, sebab dalam konteks malas ada hibernasi berkepanjangan yang itu tidak akan dilihat sebagai kemalasan, justru dilihat sebagai bentuk “terlalu rajin.” Seseorang yang menulis buku hanya lima halaman,…

[Continue reading]

TOKOH KITA

Mungkin karena tidak diasah jadinya ngawur kalau bicara! Anak jaman sekarang sudah melebihi kodrat sebagai manusia seutuhnya, beberapa kali muncul di medsos lalu ngilang, pulang-pulang membawa “berkah” yang tak lain tak bukan adalah sikap tidak layak. Tokoh kita mengajarkan sikap dan unggah ungguh, saya yakin beberapa sudut rumah dan kamar orang tua sudah mengajarkan, minimal…

[Continue reading]

SUDAH SAATNYA “Membiasakan Yang Benar Jangan Membenarkan Yang Biasa!”

  Jelas ini sebuah permainan politik, wilayah kepribadian sudah disentuh tanpa permisi, mengobok-obok persinggahan sementara. Pada kesempatan yang lain, saya melihat beberapa prajurit bayaran menunggu upah mingguan, berjajar seperti petugas sensus. Saya punya pandangan yang berbeda tentang pembagian tugas berjuang, ini soal keadilan psikologis, bukan soal siapa dapat apa. kalau anda pulang kerja jalan mundur…

[Continue reading]

SEPEREMPATNYA AKU TIDAK PAHAM

Mendung itu mencoba mengakali, melapisinya dengan serabut mimpi, seperempatnyapun aku tidak paham apa yang sudah terjadi dengan kita, apakah ini masuk finalisasi perpisahan, atau hanya sebongkah penyesalan yang berkepanjangan? Seperti yang sudah-sudah, kesudahan ini memang tak pernah disudahi secara spontan. Kita jalan masing-masing, bertemu pun tak pernah. Jejak kaki membiru, membekaskan sepenggal penyesalan. Kalau ditanya,…

[Continue reading]

NEGERI SEBERANG

Pokoknya salah! Selama saya masih hidup kalian semua tidak akan saya benarkan! Ingat itu! Anda tahu saya ini siapa? Kata salah seorang di seberang sana. Saya ini orang terpandang! Orang yang hobinya tidak mengorangkan, saya ini terhormat! Bruakkkk!!!! Suara meja digebrak. Lho…lho mau kemana? Katanya, kami mau pulang, kami bersyukur masih ada Anda sebagai penghias…

[Continue reading]

MEMETIK KEKECEWAAN

Berpisahlah, maka kau akan menemukan jalan pertemuan itu, diamlah sejenak seperti apa deru waktu memperkosa keinginanmu. Dadaku penuh sesak dengan kata-kata makian, sepeninggalmu waktu itu. Bukan karena sakit hati, ini perkara waktu. Kalau bisa aku sanggup meninggalkanmu ditengah malam, aku tahan hujan itu lalu, ah…itu kan dulu, bukan sekarang! Boleh aku mengatakan akulah dedaunan yang…

[Continue reading]

KAJIAN “TERLARANG”

KAJIAN “TERLARANG” Ustad A, pacaran itu haram, ustadz B masih remang-remang untuk memfatwakan haram tidaknya, ustad C justru kaget kenapa bisa haram? Ustad Diantara kaget bercampur bahagia karena dengan haramnya pacaran, dia punya alasan untuk langsung menikahi perempuan lain. Larang dalam bahasa Jawa diartikan mahal, jadi kata terlarang adalah termahal. Konteksnya begini, ada fatwa haram…

[Continue reading]

HAHAHAHAHA

  Seseorang tertawa itu kalau ngak lucu ya konyol, atau aneh atau bahkan tidak apa-apa tertawa, atau justru jadi bahan tertawaan, yang mana konteks benarnya? Apakah perlu kita pikir sampai detail? Kalau kita ambil contoh orang gila, dia tertawa bukan karena lucu, justru dia kuat, dia menertawakan diri sendiri “oh ternyata aku kuat, bisa hidup…

[Continue reading]

ISLAM HAGIOGRAFI

  Seorang Menteri berkiprah di blantika “musrik” tanah air, mengeluarkan fatwa-fatwa historiografi tapi meleset ke hagiografi. Selangkangan dijadikan komoditas efektif, menunda-nunda kearifan lokal demi terciptanya masyarakat berbudaya. Sungguh sebuah terobosan baru ketika beberapa orang dilarang menggunakan pakaian keagamaan. saya melihat ini dari kacamata keberagaman, Indonesia jelas bukan negara Islam, tetapi Indonesia boleh menerapkan syariat Islam,…

[Continue reading]