ATMOSFER SOSIAL

Kalau manusia minatnya terhadap akal budi dan keberkahan sosial, maka sederas apapun ide dan kegaduhan yang diciptakan akan bermuara pada keberlangsungan dan ketimpangan yang tidak berjalan baik. Kalau laki-laki itu minatnya terhadap halus tidaknya kulit, bentuk payudara, ukuran-ukuran celana dalam, sedap tidaknya “stamina pertinjauan.”

Kalau menikah, bermasyarakat dan berkompromi melalui semiotik bahasa adalah bentuk peyorasi sosial, untuk apa dibuat pesta pernikahan, woro-woro agenda sosial, bakti-bakti kenegaraan? Kalau itu sama halnya dengan pembelengguan otoritas kehendak. Bukan tidak paham aturan agama, norma atau masyarakat, tetapi ini lebih kepada pengembaraan jiwa-jiwa internal manusia. Menikahi dan mempunyai anak adalah substansi yang dicari atau sengaja dileburkan untuk memperoleh restu Tuhan?

Selama masih ada keterikatan selain psikologis dengan Tuhan, maka perlu dibuat kebijakan yang super mengikat, sebab semakin anda terikat maka harus selalu diikat, untuk apa dibuat undang-undang kebebasan pers misalnya. Kalau bahasa jawanya “wagu” sebuah deskriptif guna menjelaskan sosok minor mayor yang sedang berselisih paham tentang harga BH kolosal. Kondisi dan pengkondisian melibatkan aroma-aroma politisasi, atmosfir sosial ditinggalkan dan dijadikan kambing super hitam di tengah malam, tidak kelihatan tapi tetap saja disalahkan.

Penelitian ilmiah merujuk beberapa pendapat klasik tentang teori ini dan itu, OK! Tapi kalau sudah merusak narasi konseptualisasi yang meregang begitu banyak nyawa, itu baru tidak OK! Saya pikir, beberapa instansi kelembagaan perlu membuat akar undang-undang pemahaman, siapa yang tidak paham, pancung!

Akan tetapi, keberlangsung sosial sudah dipersempit oleh hadirnya sistem-sistem oligarki. Melanggar sumpah jabatan dan menenggelamkannya di samudera kelimpungan. Sesungguhnya suatu kebudayaan dan sistem masyarakat membutuhkan shock therapy. Bagaimana tidak, kalau dikasih pemimpin yang keras tidak mau, dikasih pemimpin yang lembek, mengeluh, masyarakat model apa ini? Apakah ini yang dibangun founding father kita?

 

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *