BUTIR-BUTIR HARAPAN

 

Dari balik jendela kamarku, mengisahkan seberkas denting harapan, kepada yang selalu mengikat sulfur kebencian, aku mengatasnamakan kehidupan dalam meraih dimensi cinta. Waktu itu, semenjak engkau pergi meninggalkanku pada saat yang menurutku tidak tepat. Begitu lama aku memenjarakan harapan, menyembunyikan kegelisahan, mengultuskan engkau sebagai simbol dedaunan yang rapuh. Aku memanjat sirih lalu menghujamkan ke tanah permata. Sungguh selaksa maknamu telah memberikan pesan dalam hening.

Aku berkaca pada kisah kita, menjelmakan setiap butir harapan, syal birumu masih kau simpan. Beberapa waktu lalu aku melihatmu dalam murung, sepertinya engkau butuh aku, berlaga dalam kiprah percintaan kita. Dulu, aku pernah menghilangkanmu dalam sekejap, lalu muncul kembali bahkan aku sengaja memunculkanmu seperti mendung siang ini yang tiba-tiba hujan.

Aku tarik beberapa buku di depanku, seolah menutupi keangkuhanku, mungkin malam akan datang seperti sebelum-sebelumnya. Lalu, kemana dugaan itu? Kemana kau sembunyikan separuh dari perjalanan kita? Apakah aku merasakannya kembali? Apakah kita masih memegang teguh untuk tidak percaya kepada pertalian dua manusia? Tetapi, alam berkata lain, dia adalah utusan Tuhan untuk meredam amarah.

Sementara hidup bergulir, aku duduk di antara lembaran tulisan, menggoreskan sedikit tentang kuatnya penderitaan dalam perpisahan. Ranting mulai rapuh, akar pohon pun tumbang, di baliknya ada begitu banyak pertanyaan. Harapan-harapan itu kini menempel pada dinding masa lalu, engkau berjalan ke ujung tebing, membalikkan badan dan syal mu tersapu angin. Aku mendekatimu, mencoba mengembalikan posisi syal mu. Engkau terus menatapku, aku pun tak kuasa menahan pergulatan hati. Sampai pada waktu yang ditentukan, perjumpaan sementara itu hilang, seperti malam diujung pagi, merana meratapi seberapa jauh kesakitan yang pernah terjadi diantara kita. Percayalah untuk terus berjalan pada waktu yang sudah kita sepakati bersama. Dan akhirnya kita sepakat untuk kembali ke sudut-sudut kesendirian.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *