HUKUM ARKAISME

 

Siapa yang mencuri harus dihukum, soal bentuk hukumannya masih diplenokan. Harusnya semakin langka barang, semakin tinggi harganya, semakin langka manusia semakin tinggi nilainya. Tetapi ada satu pemahaman yang “gila” di tengah-tengah modernitas kolosal. Lebih baik mana, seseorang yang langka dengan nilai tinggi atau seseorang tidak bisa dibeli karena tidak pasang tarif?

Selongsong elemen masyarakat sudah semakin jauh membengkak, menafsirkan tentang analogi kemunduran sistem hukum. Kalau saya memperkosa lalu hamil lalu saya nikahi kenapa hukum yuridis menjadi gugur? Kalau begitu jangan ada undang-undang pornoaksi, itu melelahkan pembahasannya. Sejak terjadinya perputaran dunia, manusia cenderung mengkafirkan perjalanan beda jalur, selatan dianggap kafir dan utara dianggap baik, timur dianggap maling dan barat dicap dermawan.

Untuk itu, hukum Arkaisme sewajarnya perlu dimunculkan ke permukaan, bukan untuk merubah sistem, tetapi hanya untuk pancingan kepada orang-orang yang tidak pernah “bercermin”, orang berilmu bisa memperoleh intisari keilmuannya dari sebuah buku tebal, tanpa harus membaca buku itu, dan inti itu akan lebih mengental di genggaman apabila ia tidak malas membaca buku. Jadi bagian mesin kehidupan mana yang rusak? Atau mungkin merusak tatanan silogisme masyarakat?

Hati-hati dengan persepsi, akan memunculkan argumentasi berbeda, dorongan psikologis yang skeptis, maklum saja banyak manusia serampangan lalu lalang tanpa melihat plang-plang membentang.

Dugaan sementara, kemahiran seseorang dianggap sebagai kunci kebenaran subjektif. Tidak bisa demikian, sebab masih ada unsur-unsur demokrasi yang disembunyikan secara sengaja dihadapan meja-meja peradilan. Persoalan sejarah, tidak terutama pada bagaimana pengetahuan dihamparkan, tetapi bagaimana bidang keilmuan digerakkan. Tidak pada pemikiran-pemikiran berdemonstrasi, tetapi seberapa jauh ia bisa dirajut, dianyam dengan realitas berkualitas.

Barangkali lebih jelas dan berkelas ketika pemuka hukum dan pengulas agung berdialog lintas kelas, supaya tahu mana pentas-pentas yang memang pantas diretas dan disinergitas.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *