ISLAM HAGIOGRAFI

 

Seorang Menteri berkiprah di blantika “musrik” tanah air, mengeluarkan fatwa-fatwa historiografi tapi meleset ke hagiografi. Selangkangan dijadikan komoditas efektif, menunda-nunda kearifan lokal demi terciptanya masyarakat berbudaya. Sungguh sebuah terobosan baru ketika beberapa orang dilarang menggunakan pakaian keagamaan. saya melihat ini dari kacamata keberagaman, Indonesia jelas bukan negara Islam, tetapi Indonesia boleh menerapkan syariat Islam, tidak jadi masalah, yang jadi masalah adalah kalau orang Islam sendiri yang mengkafirkan diri sendiri melalui keberadaan peraturan baru.

Non-Islam tidak hanya Kristen dan Katolik, ada agama lain, tetapi kenapa diidentikan dengan dua kepercayaan itu? Apakah mereka tidak pantas hidup di Indonesia? Terlepas dari pembacaan klausul sejarah perang Salib. Masalah adalah serangkaian kebaikan yang ditumbuk diantara pilihan dan kepercayaan, bukan sesuatu yang didikotomikan bersama. Itu ngawur!

Hagiografi bercerita tentang kehidupan Santo dan para pengikutnya, bukan dicampurkan dengan sejarah dan peperangan ideologi. Kesalahan yang dilalui tanpa merujuk teks-teks sejarah, menghempaskan struktur kefasihan. Tanpa Pancasila kita tidak bisa hidup baik, tanpa sila kelima kita tidak akan menelurkan istilah pemerataan. Jangan mengukur baju orang lain dengan badan sendiri, bagi anak SD itu sebuah kemoronan.

Menteri itu tiba-tiba berang! Memaki-maki segenap peselancar dunia maya. Wajar saja, kalau dalam Masjid ada Salib apakah tidak diskriminasi? Kalau di lapangan dangdut silahkan ada Yesus, Allah, Budha, Sintho atau Yahudi, tidak ada masalah selama azasnya keberagaman dan toleransi. Pemahaman yang demikian tidaklah bagus ditetapkan di Indonesia, meski kita tahu kemajemukan di dalamnya membuat kita mundur selangkah bahkan “ndelik” diantara tumpukan ayat-ayat demokrasi.

Pada sekte-sekte atau sempalan-sempalan keagamaan tertentu tidak diajarkan keburukan, justru diajarkan kebaikan, tapi tetap pada itikad baik toleransi beragama, apakah seseorang yang tiap hari dakwah lantas masuk Surga? Kalau iya, anda tidak ketemu dengan artis-artis dong?

 

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *