KEPUTUS (asaan) MENTERI

 

Dengan berapi-api seperti Bung Tomo, Ibu saya marah besar kalau kebijakan celana cingkrang dan pemakai cadar diperluas, alasannya sederhana, Indonesia bukan negara Islam. Menit kedelapan babak pertama, Ibu melanjutkan “kemarahannya” dengan mengkritik jenggot panjang entah siapapun itu, alasannya sederhana, kalau makan sop lalu kuahnya nempel di ujung rambut bagaimana? Apakah perkara jijik menjijikkan layak diperdebatkan? Itu hanya soal psikologis saja ujarku.

Bagi saya ini model keputusasaan Menteri, dia sudah jengah dengan ulasan yang beralasan ini dan itu. Radikal sikat! Ketegasan itu dipandang “ngawur” oleh sebagian yang “mendukung” celana kurang bahan dan para musuh-musuh kapster. Yang namanya putus asa itu baik, itu tandanya dia sungguh-sungguh ingin membenahi sebuah kondisi. Pasalnya Pak Menteri kurang tanggap negara macam apa yang sedang dihadapi. Bagaimana pandangan filosofis tentang hal itu.

Ini menjadi pokok kontroversi kelas atas, seolah memparafrasekan kondisi sosial dengan jalan kebijakan yang utuh. Saya sepakat dalam satu sisi, tetapi di sisi lain ketidaksepakatan saya menjadi unsur untuk tetap menolak pendapat pribadi saya. Beberapa orang melakukan eksegetis, pada tatanan yang menggelembung di kancah perpolitikan.

Setelah itu, pasukan borjuis mendendangkan syair-syair akhirati, memendam dimensi kekompakan dengan menghujat sana sini, coba kalau mereka jadi Pak Menteri, paling juga duduk di Burjo menghitung kancing baju untuk bunuh diri atau tetap hidup. Keputusan apapun menjadikan bermunculannya relawan sosial tingkat desa dan kelurahan, teriak korupsi tapi dibalik panggung ngitung laba utang. Apa-apaan ini? Apakah ini yang disebut demokrasi anti huru hara? Mungkin saja relawan itu sekedar anti sosial tapi tak anti biologis, disuguhi paha Janda sudah kocar kacir cari kamar mandi sewaan. Orang-orang sering melupakan falsafah gotong royong, jadinya ompong royong, takut tertindas berujar ini sebuah penindasan massal.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *