LEKSIKOGRAFIS

 

Pemaparan judul diatas diambil dari sudut pandang yang saya ubah menjadi lingkar pandang. Kita juga bisa memaknai lingkar pandang seperti ini, nilai konflik manusia adalah hakikat hidup yang Tuhan sendiri memang menciptakannya. Tuhan membuat Iblis justru untuk menegaskan secara komparatif tingkat kemuliaan yang bisa diperjuangkan, bukan diperjual belikan. Makin banyak Iblis di Indonesia, manusia semakin memperoleh tantangan untuk meningkatkan mutu kemuliaannya. Dengan kata lain, manusia membutuhkan Iblis. Jadi penciptaan Iblis “bermanfaat” sebagai alat pemuliaan manusia.

Saya rasa, manusia perlu leksikografis untuk membuat semuanya bersumber. Sederhana saja, tidak perlu tebal-tebal, cukup beberapa lembar saja. Soal isi dan eksistensial kongkritnya butuh waktu uji coba perdana. Minimal sudah pernah mencobanya. Diantara kaum tua, paling terbukti bertanggungjawab adalah para pemegang kendali sejarah, para penggenggam kekuasaan, pemilik modal, keputusan-keputusan mengerikan yang dibuat seolah “syar’i” sebagai pandangan yang tak mendasar.

Tuduhan itu tak beralasan, berbagai postulat sudah didendangkan, serangkaian reaktivitas sudah bergulir di sudut-sudut protokol. Sungguh pada masa yang katanya emas ini, keegoisan manusia sudah masuk dimensi terkuat. Untuk itu perlu adanya kamus kehidupan yang menata perilaku dan sikap-sikap militanisme.

Toh sebelum Adam-Hawa memakan buah Khuldi, jauh sebelumnya Tuhan sudah berkata “Aku akan ciptakan makhluk khalifah di bumi.” Jadi sebelum “pelanggaran” yang dilakukan Adam Hawa, Tuhan sudah menskenariokan bahwa manusia akan tinggal di bumi dengan segala bentuk dan wewenang tanpa banding. Seperti yang sudah-sudah, manusia berkitab memang layak dianugerahi lencana, soal bagaimana caranya, itu hanya soal teknis saja.

Peradaban itu benteng kekuatan, di dalamnya ada semacam tonggak pemersatu kedaulatan. Terserah didalamnya dihiasi dengan dosa atau doa, yang penting kedaulatan itu sudah lahir secara normal. Tidak usah dibuat ribut, cukup kita susun saja naskah leksikografinya semua akan (di) sesuai (kan) dengan rencana.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *