NORMA-NORMA TEOLOGIS

 

Beberapa gadis membuka pakaiannya di depan kamera, ada yang tinggal BH dan celana dalam, ada yang tinggal kembang kecil dan selempang penutup. Di kamar sebelah, ada yang tak begitu sensual, masih pakai baju setengah, tanda warna warni di leher tak dianggap pelanggaran teologis oleh petugas karena dimaknai urusan biologis, tidak etis kalau dibahas di forum kebhinekaan. Masyarakat umum bisa menikmatinya di kalender-kalender akhir tahun dan beberapa link-link semacam paradoks kelamin.

Kalau saya bilang teman-teman kita itu sedang dalam lindungan Allah apakah saya berlebihan? Seorang “Sufi” katrolan memprotes saya. Kenapa dianggap perlindungan Allah? Itu kan sama dengan azab! Saya meninggalkannya dengan pesan tak berkualitas “Memangnya situ tahu Tuhan sedang apa saat mereka buka baju?”

Kemerdekaan kehendak masing-masing orang saat ini sudah “dimasak” dengan penggorengan modern, yang klasik sudah ditinggalkan. Dibalik itu, ada laki-laki konsumen membayar setumpuk rupiah menjadi bebas. Apakah lembaran seratus ribuan bisa membungkus hukum? Ataukah sekadar mengelilingi kenikmatan duniawi? Yang mereka cari sensasi katanya, kalau hanya sensasi, anda makan bubur semut pun sensasi.

Tidak usah mengumbar sensasi atau mencari sensasi dengan sejumlah penetrasi, masyarakat sedang dalam konsentrasi, anda jangan menambah populasi. Organisasi ternama mengatakan “berantas prostitusi” tiga bulan kemudian ditangkap karena kasus percakapan seks dengan seorang janda muda. Saat ini siapa saja bisa terjerat norma-norma teologis. Terjebak pada dentuman-dentuman anarkis hati, alasan penyebaran agama, dalam agama dilarang bla…bla…bla, masuk kamar mandi kelurahan hitungan menit, keluar dengan pakaian yang berbeda. Ada apa? apa-apa ada di Indonesia.

Ini moral apa dan psikologi persuami-istrian yang bagaimana? Apa gerangan yang memfasihkan segerombolan penentang ayat-ayat Tuhan? Dasar logika dimana ketika perempuan dengan nama samaran masih saja melakukan “kontrak politik” dengan beberapa penatar teologis. Apakah itu sebuah keharusan? Atau kehausan seks?

 

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *