BERPIKIR, PIKIRAN DAN OBJEK YANG DIPIKIRKAN

 

Selalu setiap kali bicara pikiran saya mendadak meriang, panas dingin, opname dari rutinitas sehari-hari. Tumpuan dan peraduan yang beradu pandang antara manusia dan pikiran terdapat celah yang sangat luas, dialah pikiran yang selalu menjadi “musuh” dalam koridor kemanusiaan dan aktivitas. Memikirkan sesuatu yang luas itu membutuhkan dilematisasi permanen, objeknya “pikiran”, subjeknya “yang dipikiran” manifestasinya “yang memikirkan” dan tujuannya “untuk dipikirkan.”

Halusinasi tertinggi dari rendahnya kapasitas pikiran terlihat jelas saat manusia menolak untuk berpikir, hanya saja kita harus melihat apa yang melatarbelakangi tidak bisa berpikir? Ilmu apapun selalu membutuhkan ruang untuk pikiran, tempat luas untuk yang dipikirkan, dan perjalanan panjang kepada yang menjadi objek pemikiran.

Matahari menyelesaikan satu kali putaran dalam rotasinya selama satu tahun, sedangkan Saturnus membutuhkan tiga tahun untuk sekali berputar. Itu menandakan sekali putaran Saturnus adalah seperempatnya putaran matahari. Sementara itu, Yupiter membutuhkan seperduabelas putaran matahari, sebab Yupiter melakukan satu kali putaran secara tak terhingga, sebagaimana gerakan timur ke barat matahari hanya membutuhkan waktu sehari semalam dalam pergerakannya.

Apa yang dimaksud di atas? Semua yang terabaikan dengan baik seperti perputaran matahari, Yupiter dan Saturnus merupakan objek yang dipikirkan, sesuatu yang terpikirkan, perjalanan yang tak pernah terpikirkan oleh objektivitas manusia di dalam perjalanan hidup. Saya rasa, ketika manusia memikirkan pikirannya, disaat itulah dia merasakan apa yang menjadi objek pemikirannya selalu ada untuk terus dipikirkan. Hanya saja, manusia tidak pernah berpikir ke arah itu.

Arah yang jelas, kemudi yang pantas disematkan pikiran manusia, saya rasa kita sampai saat ini adalah objek dari hasil pemikiran masa lalu. Diamnya menghanyutkan dan membentuk sekat-sekat rimba pikir. Lebih atau kurangnya menginvestasikan sejauh dan sedalam apa pemikiran kita. Malas berpikir sama saja anda malas untuk hidup, sebab hidup tidak mungkin tidak berpikir.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *