JALUR IMAGI

 

Tidak ada salahnya, kadang kita menjadi matematikawan, fisikawan, filsuf, astronomi atau komika. Semua adalah susunan teks kehidupan, meskipun tumpukan rasa tidak tahu menggelora di sepanjang aritmatika. Ganjil genap bukan soal, rubrik atau headline tidak jadi masalah, yang penting kita sudah menjalankan masing-masing peran. Jadi, untuk menentukan jalan hidup, kita wajib “menceramahi” diri kita sendiri, sebagai wujud kemunafikan terhadap hidup.

Pernah, bahkan sering! Kita menjumpai sosok “mengerikan” dalam satu tema tertentu, sosok itu menjelma menjadi peri, pahlawan, begundal, penyelamat, atau bahkan psikopat. Itu tidaklah mengerikan, yang mengerikan adalah ketika sosok-sosok itu hilang dari diri kita, lalu apa nama kita? Tidak adanya identitas itulah yang jauh lebih mengerikan, tak tersentuh hukum, dibunuh juga tidak bisa karena tidak ada identitas, di sanksi sosial juga percuma karena tidak ada yang mengenali.

Keberagaman sosial merujuk pada intensitas atau seberapa sering dugaan itu muncul dalam pelabuhan hidup. Sejatinya memang harus begitu, tetapi yang “sejatinya” justru menjadi momok yang tak henti-henti menangisi kepergian sosok itu. Jiwa itu mudah ditemukan, sebab ada rasa sulit, sedangkan sulit itu tidak gampang ditemukan, sebab ada tembok besar yang namanya kemudahan.

Saya tidak mengharapkan anda memahami tulisan saya, yang sampai hari ini menjadi pikiran adalah bagaimana kita memerankan estimasi waktu dan dorongan-dorongan sosial pada sifat luar masyarakat. Ngeri atau tidak, sulit mencari ukurannya, baik atau buruk juga sulit menemukan konteks nilainya. Semua tersapu bersih oleh dilematisasi kontekstual, heboh di tengah campuhan dan menggerogoti jentik-jentik keabsahan berpikir.

Sudah sekian lama kita terjebak pada sangkar diskriminasi simposium. Kita dipaksa masuk melalui jalur imagi dan terhenti pada lajur tak bertepi. Pada kenyataannya memang demikian, ada fakta yang harus digali lebih dalam mengenai seluk beluk dan fatamorgana hidup. Jangan asal bicara, ini bukan wayang golek dan ludruk! Ini jebakan!

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *