KULTUS FUNDAMENTALIS

 

Mereka menghidupi gaya-gaya fundamentalis dengan sistem nilai yang rendah. Skolastik diabaikan sedemikian rupa sehingga memunculkan garis-garis diskriminasi, ujung-ujungnya ajang mengkultuskan menjadi rekayasa publik sehari-hari. Fenomena ini lebih kepada anjuran berbuat sia-sia, namun begitu makfumnya masyarakat sehingga dianggap sebagai sebuah kebiasaan mutlak. Beberapa contoh anomali gaya hidup disuguhkan, seolah dunia sebagai restoran besar tanpa hasrat memuaskan sesama. Ketidakberjiwaan manusia itu ditandai oleh optimalitas materialisme, oleh ketidaksanggupan ilmu-ilmu modern memahami siapa sebenarnya manusia.

Kalau anda belajar tentang pertahanan jiwa dalam ilmu Psikologi, maka terdeteksi aneka ria perjalanan tahapan, diantaranya first wave yang mengacu pada gelombang pertanian, artinya sebuah benda atau penemuan (termasuk gaya hidup) tidak akan berubah sampai puluhan abad. Namun, pada second wave dan third wave, pada industri dan informatika, perubahan berlangsung bukan hanya cepat, tapi juga terlalu cepat. Itu artinya, pada tingkatan yang tak tertangguhkan oleh irama mentalitas manusia.

Kalau mau kita hitung, ada sekian juta manusia yang (masih) terdampar pada first wave, seolah tidak mau berubah mengikuti modernitas. Meskipun secara mode pakaian mereka selalu berubah-ubah. Perubahan yang dimaksud masuk lebih dalam pada tatanan logika berpikir, atau sistem skolastik nilai yang kadang diabaikan oleh segenap bujur manusia-manusia kanal. Tak sebanding dengan unsur dalam kehidupan, namun siap-siap saja, kita akan mengalami keajaiban yang diduga datang dari Tuhan.

The searching of the soul? Apakah itu proses pencarian jiwa? Sesungguhnya sekte-sekte yang bergelimpangan di sekitar kita menawarkan dua celah, pertama kita diiming-imingi untuk ikut arus modernitas, celah kedua kita dipaksa masuk juga pada gelombang westernisasi. Ada semacam “perang budaya kebatinan” diantara jiwa-jiwa yang mati, kelembaban udara dalam rongga dada telah diperkosa oleh sistem nilai yang mengeruk keuntungan sekian banyak.  Optimalisasi segala jurusan dan perisai ilmu pun dianggap tak ada gunanya, lemah syahwat dan….

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *