MEREDUKSI HAKIKAT TAKDIR

 

Beberapa malam ini terus menerus mencari dimana diri saya dan dimana keberadaan saya. Untung saya ini tidak bisa apa-apa, tidak punya kemampuan apa-apa dan tidak punya prestasi apa-apa dibanding beberapa orang yang dijemur dengan tepuk tangan para punggawa kehidupan. Saya hanya terus mencari dimana kesalahan saya dan ternyata sangat sulit menghitung sebab begitu banyaknya dosa dan kesalahan saya.

Beberapa hari terakhir, saya mencoba mereduksi hakikat takdir, kenapa saya jadi saya, dan kenapa saya tidak menjadi yang bukan saya? Apakah hakikat takdir potensial ini sudah digariskan Tuhan atau Tuhan sedang mengajak saya petak umpet, menemukan hakikat diri dalam sekam nilai-nilai kehidupan? kebanyakan manusia saat ini tidak mempermasalahkan soal itu, yang mereka tekankan adalah bagaimana dianggap “wah” oleh sebagian orang, itulah “kewajaran” manusia dalam mendustai diri.

Kesanggupan berpikir diobral dan dibarter dengan cara-cara yang licik, sebentar-sebentar diberi tanggungan tanpa melihat keindahan dalam ketidakmampuan manusia. Saya menjadi heran, pertapaan saya di dunia ini menjadi sedikit goyah ketika beberapa orang meminta sebuah solusi, saya pikir itu haluan buruk terbesar dalam keluasan kesempitan berpikir.  Memang, untuk menjawab itu, diperlukan ajaran-ajaran fenomenal yang tidak diajarkan di kampus-kampus atau sekolah-sekolah modern.

Saya hanya menjalankan tugas “spiritual” dari sang Maha Dahsyat! Tidak lebih dari itu, saya hanya kotoran yang siap diinjak oleh manusia-manusia tinggi derajat dalam ketidaktahuan. Mereka dengan saya jelas berbeda, saya jauh lebih rendah, tapi yang saya herankan, kenapa mereka belum menemukan kebodohannya? Itulah bukti kecerdasan tingkat tinggi. Saya salut. Mereka kehilangan sistem dan tonggak kebudayaan, yang mereka cari keuntungan pribadi. Ini jelas “tidak melanggar” kode etik kebodohan, mana ada orang bodoh melanggar? Justru sebaliknya, hanya orang pintar lah yang melanggar sebab dia tahu tentang sesuatu. Umumnya memang demikian, tapi di sini dibuat menjadi tidak umum.

 

 

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *