RUMUS SEROJA “Satu Sampai Sembilan”

 

Dua malam lalu, SEROJA mendapat kesempatan untuk mendiskusikan pertanyaan tamu saya dari Magelang. Lima orang mahasiswa “ngeluruk” ke Jogja hanya untuk mencari keadilan berpikir. Lina, salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan, Mas, kenapa ada angka satu sampai sembilan, apakah itu ada maknanya? Jelas! Pertanyaan itu mematikan saya untuk menjawab, sebab saya tidak punya ilmu apa-apa. tapi, demi terciptanya silaturahmi, saya coba menjawab.

Satu sampai sembilan adalah angka yang sebenarnya, sepuluh merupakan perkalian dimensi spiritual dari angka sebelumnya. Jadi, meskipun sepuluh terdiri dari satu dan nol, bukan berarti itu adalah angka. Itu adalah dimensi!

Satu adalah Tuhan, dan Tuhan itu Allah, dua adalah manifestasi dari sholat ketika atahiyat akhir, tiga merupakan Tuhan, ketika angka tiga di balik lalu diberikan tasjid, maka nama Allah akan terbentuk, empat merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad, beliau diangkat Nabi pada angka empat atau empat puluh tahun, lima adalah rukun Islam, enam adalah rukun iman, tujuh dalam bahasa jawa dianggap “pitulungan” atau pertolongan, lebih jelasnya 17 ramadhan, 17 Agustus dan 17 rakaat, tujuh adalah pertolongan dan angka satu adalah Tuhan, jadi Indonesia dan Islam adalah bentuk pertolongan Allah kepada manusia, tujuh di tambah satu akan ketemu delapan, itulah sifat infinitif atau tidak putus-putus, dalam berdoa kita diwajibkan untuk tidak putus-putus dan terus berusaha, dan sembilan adalah angka yang jika ditambah dan di jumlah akan sama, 9 x 1= 9, 9 x 2 = 18 (8+1=9), 9 x 3 = 27 (2+7=9) dan seterusnya.

Apa yang menjadi telaah panjang dari ilmu ini adalah jarak spiritual dari gelombang ketidaktahuan manusia. Mereka adalah tamu-tamu agung saya, menceritakan kegelisahan tentang bentuk angka dan perjalanan selama hidup. Sebuah pengalaman yang mendistribusikan kerohanian dan percampuran antara iman dan kekhawatiran tentang masa depan.

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *