SEINDAH APA DIRIMU

 

Engkau memandang gelap itu terang, terang itu gelap, putih menjadi hitam, rindu menjadi benci, dekat menjadi jauh, tidak ada menjadi ada, ada menjadi tidak ada. Apa yang kau ucapkan menafsirkan segenap perih bergelantungan di dahan harapan, bersama yang tak selalu bersama, menari dalam lingkaran detik, berlari pada sekam yang menikam berhimpitan dengan rasa sesal. Tanpa apa yang terjadi, aku bukan apa-apa, tanpa apa yang tidak pernah terjadi, seperti apa aku esok? Apakah pertanyaan demi pertanyaan bisa engkau jawab? Ataukah endapan itu mengering seiring berhentinya hujan malam ini?

Siapa yang bisa menyangka kita tidak bisa mampir di ujung pelataran itu? senja tak bergeming, putus asa menjadi hiburan, dentuman jarum jam menghajar setiap detik masa lalu, siapa yang melakukan itu? Siapa juga yang akan bertanggung jawab? Jangan pernah memerintah cinta, sebab halte-halte pemberhentian itu kini membusuk di tengah lajur kehidupan.

Aku memasang dua daun telingaku bukan untuk mendengarkanmu, tapi untuk melihat rintihan nafasmu, aku mengontak kedua matamu dengan rimbunnya rasa lapar tentang pertemuan bukan untuk melihatmu, tapi untuk menemukan seindah apa bersamamu yang kini sudah hilang di sudut bumi. Cinta hadir bukan sebuah sajian khas berselera, ia merupakan pasukan khusus Tuhan untuk dihadirkan sesaat. Rindu terbang mengangkasa, selebihnya hanya himbauan semata. Engkau terlalu sering memaki-maki cinta, sehingga dia luluh dalam barisan manula.

Pada setiap perkataanmu aku menemukan keringanan hidup, pada setiap pikiranmu, aku mendendangkan nestapa, itu aku menikmatinya. Perlahan tapi tidak pasti, kau surutkan kesedihanku, mencoba untuk masuk dalam hitungan masa. Kekecewaan mendasar pada serabut mimpi, wangi dan terus mewangi. Sehisap apa dedaunan itu kau sentuh? Paruhnya menggembalakan serpihan detak jantung.

Siapa diriku, secara sembarangan memainkan nada-nada Tuhan dan mencampurkannya unsur kimiawi rasa. Untung aku menemukanmu, setidaknya aku bisa berbagi kekurangan tanpa kelebihan yang mendasar erat. Tunggu saja di sana!

About Author:

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *