SETAN KESURUPAN MANUSIA

  Saya melihat selembar uang dua ribu rupiah di jalan, diinjak-injak oleh orang yang tahu kalau itu uang. Kesadaran mereka tentang nilai dua ribu itu berbanding sangat terbalik dengan aktivitas keseharian, bahkan mereka akan sangat menyesal ketika membayar sejuta tapi ditolak karena kurang dua ribu. Apakah sejuta sempurna tanpa dua ribu? Tapi dua ribu tidak…

[Continue reading]

NOBITA MEMPERKOSA SHIZUKA

  Sebenarnya orang gila dengan orang yang tergila-gila perbedaanya ada dimana? Rekonstruksi teoritik yang dijalin empu-empu dianggap “sarang laba-laba’ tidak pakai etika kenormaan, bablas ke Selatan, mampir “Parangtritis” ini bukan ajudan zaman yang siap diambil hati dan tengkoraknya untuk praktek kuliah. Beberapa pekerja entah di perusahaan mana saja sedang “nafsu-nasfunya” kepada dunia, entah dalam wujud…

[Continue reading]

MANDATARIS TUHAN

  Kalau dihitung, mungkin tidak akan selesai berapa jumlah titik mandataris Tuhan di sekitar kita, yang selalu membawa ayat dan dalil ketika bicara soal kehidupan dan kesalahan. Sebenarnya, Tuhan memandatariskan manusia di bumi untuk memimpin, tapi manusia keracunan potasium, melebih-lebihkan “titah” Tuhan menjadi kewajiban untuk “berkowar”. Saya melihat indung telur dan sekte-sekte pemahaman agama sudah…

[Continue reading]

KOK ONLINE?

  Katanya mati? Kok online? pergi dari rumah pamitnya kerja, kok online? katanya mandi? kok online? Denger-denger dari tetangga, katanya sudah pindah? kok online? Katanya tidur, kok online? Katanya di rumah sakit, kok online? Katanya sedang berenang, kok online? Katanya nyetir mobil, kok online? Katanya sedang terbang, kok online? Katanya baru malam pertama, kok online?…

[Continue reading]

WISKY PAK LURAH

  Semua itu kafir, orang Islam dianggap kafir bagi yang bukan Islam, dan yang bukan Islam dianggap kafir bagi yang Islam. Tidak masalah selama tidak mengkafir-kafirkan dasarnya. Argumentasi pelupa disiapkan untuk terus memikul perdebatan diantara yang kafir dan yang bukan kafir. Semua disajikan untuk kepentingan bersama selama yang bersama itu mempunyai nama yang kurang baik….

[Continue reading]

MERAWAT PERPISAHAN

  Kau tahu aku sibuk mengaduk rindu, menuangkan sisa pikiran di hangatnya secangkir kenangan. Entah dari mana itu, yang pasti bibirmu berpadu padan dengan silsilah kehidupanmu. Awal ceritamu mengupas suka duka perjalanan ini, sungguh aku terbiasa dengan rintihan hujan malam ini. perkara kau tahu atau tidak itu soal lain, yang pasti dan jangan tanyakan kenapa,…

[Continue reading]

BEBERAPA LEMBAR FOTO

  Apa engkau tak muak mendengar ceritaku tentang muda mudi yang bercelana ramping, bersanggul monoton dan berkerah sedikit? Tunggulah aku sesampaimu, menikmati cahaya itu tak perlu tenang, cukup dengan memejamkan mata, maka engkau akan tahu lawan mainnya. Sudah sekian lama dan entah aku menghitung atau tidak, kita sudah tidak berjumpa lagi, tak berkirim kabar pagi…

[Continue reading]

JUAL BELI NERAKA

  Entah apa namanya, warung, kafe, angkringan atau apa saja yang didalamnya terdapat nominasi, jual beli dan  transaksi, bisa saja ritual transaksi itu mengedepankan nilai kemanusiaan atau justru sebaliknya, mengatasnamakan kepentingan bersama dibalut obral neraka. Banyak dari kita berseliweran memegang kendali sana sini, mengabaikan kerendahan hati dan menekankan pada titik-titik nadi syahwat. Saya tidak bisa…

[Continue reading]

SUSTER SAKAINA

  Sempatkanlah untuk menengok kondisi jiwa, siapa tahu sedang dalam keadaan kritis, sempatkanlah untuk meninjau kurikulum kehidupan, siapa tahu sedang terbaring sakit, sempatkanlah untuk melihat kemunafikan perilaku, siapa tahu sedang koma, sempatkanlah untuk mewawancarai beberapa hal dalam induksi malam yang terakhir, siapa tahu malam ini menjadi malam terakhir anda, sempatkanlah untuk untuk berbuat “dosa” siapa…

[Continue reading]

RUMUS SEROJA “Satu Sampai Sembilan”

  Dua malam lalu, SEROJA mendapat kesempatan untuk mendiskusikan pertanyaan tamu saya dari Magelang. Lima orang mahasiswa “ngeluruk” ke Jogja hanya untuk mencari keadilan berpikir. Lina, salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan, Mas, kenapa ada angka satu sampai sembilan, apakah itu ada maknanya? Jelas! Pertanyaan itu mematikan saya untuk menjawab, sebab saya tidak punya ilmu…

[Continue reading]